Alzier Dianis Thabranie Desak Evaluasi Total Usai Kematian Gajah Sumatera Indra di Way Kambas

Minggu, 12 Juli 2026 - 13:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy


Lampung Timur, Ruangpena.com – Tokoh masyarakat Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie, menyampaikan kritik keras terhadap pengelolaan satwa di Taman Nasional Way Kambas menyusul meninggalnya Gajah Sumatera bernama Indra, yang selama lebih dari tiga dekade dikenal sebagai gajah latih dalam berbagai kegiatan konservasi.

Dalam keterangannya pada Sabtu (11/7/2026), Alzier menilai kematian Indra tidak cukup dipandang sebagai konsekuensi usia tua semata. Ia meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perawatan satwa konservasi dan menelusuri kemungkinan adanya kelalaian dalam penanganan kesehatan gajah tersebut.

“Ini bukan kematian biasa. Ini akibat kelalaian sistemik para petugas. Untuk apa negara menempatkan petugas jika pada akhirnya membiarkan satwa tua yang telah berjasa besar mati tanpa penanganan maksimal?” kata Alzier.

Indra, gajah jantan berusia 42 tahun yang berasal dari Desa Karang Sari, dilaporkan meninggal dunia pada 22 Juni 2026 sekitar pukul 11.06 WIB di kawasan Taman Nasional Way Kambas.

Menurut Alzier, kondisi kesehatan Indra diduga mulai mengalami penurunan sejak akhir 2017 setelah kendaraan pengangkut yang membawanya mengalami kecelakaan ketika selesai membantu penanganan konflik satwa di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Ia menduga insiden tersebut menyebabkan cedera pada bagian tulang belakang Indra.

Baca Juga :  Prabowo Perintahkan Investigasi dan Perbaikan Perlintasan Kereta, Setujui Flyover di Bekasi

“Seharusnya sejak 2017 petugas memberikan penanganan maksimal. Yang terjadi justru Indra dipensiunkan, sementara kondisi kesehatannya terus menurun tanpa penanganan yang benar-benar optimal,” ujarnya.

Alzier juga menyoroti peristiwa pada 21 Juni 2026 ketika Indra dilaporkan ambruk di area rawa saat selesai mandi. Menurutnya, insiden tersebut menjadi pertanyaan serius mengenai pemantauan kesehatan satwa selama masa pensiun.

“Ini yang menjadi pertanyaan besar. Gajah yang puluhan tahun beraktivitas di hutan mendadak ambruk. Artinya, ada yang tidak beres dalam pengawasan kondisi kesehatannya selama ini,” katanya.

Ia mengakui tim penyelamat telah berupaya melakukan pertolongan selama lebih dari 20 jam. Namun, menurutnya, perhatian tidak boleh hanya tertuju pada proses penyelamatan di saat-saat terakhir.

“Dua puluh jam upaya penyelamatan itu hanyalah tindakan darurat di akhir. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana pengawasan dan perawatan dilakukan selama bertahun-tahun sebelumnya,” ucapnya.

Alzier menegaskan bahwa Indra merupakan salah satu gajah latih yang memiliki peran penting dalam berbagai kegiatan konservasi sejak 1995. Selama bertugas, Indra disebut membantu penanganan konflik manusia dan satwa liar, penggiringan gajah liar, serta mendukung pengamanan kawasan hutan di sejumlah wilayah Lampung.

Baca Juga :  Gegana Brimob Polda Lampung Musnahkan Dua Granat Aktif di Way Kanan, Lokasi Dipastikan Aman

“Indra telah menjadi pelindung hutan dan membantu manusia selama puluhan tahun. Namun ketika usianya menua dan kesehatannya menurun, apakah negara telah benar-benar membalas pengabdiannya dengan perawatan yang layak? Itu yang patut dipertanyakan,” ujarnya.

Menurut Alzier, kepergian Indra harus menjadi momentum evaluasi terhadap tata kelola satwa konservasi di Indonesia.

Ia mendesak pemerintah bersama pengelola Taman Nasional Way Kambas melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar perawatan satwa konservasi serta memberikan sanksi apabila nantinya ditemukan adanya unsur kelalaian.

“Untuk apa negara menganggarkan biaya besar jika pengawasan dan kepedulian terhadap satwa konservasi tidak berjalan maksimal? Kami meminta evaluasi menyeluruh serta sanksi tegas apabila ditemukan adanya kelalaian dalam perawatan Indra. Jangan sampai peristiwa seperti ini kembali terulang,” tegasnya.

Meski jasad Indra telah dimakamkan di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Alzier berharap pengabdian gajah tersebut tidak dilupakan dan menjadi pelajaran penting bagi pengelolaan konservasi satwa di Indonesia.

“Hutan yang selama ini ia jaga akan kehilangan salah satu penjaganya. Kini giliran kita sebagai manusia memastikan tidak ada lagi satwa berjasa yang bernasib sama akibat kelalaian yang seharusnya bisa dicegah,” tutupnya.

Follow WhatsApp Channel ruangpena.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kadis Pendidikan Bandar Lampung Tinjau Rumah Siswa SMPN 22 yang Ludes Terbakar, Pastikan Pendidikan Korban Tetap Berjalan
Ombudsman Lampung Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB SMP Negeri Bandar Lampung, Kuota hingga Jalur Afirmasi Jadi Sorotan
DPMPTSP Lampung Selatan Siapkan Regulasi Penataan Tiang dan Kabel Internet, Rio Gismara Bawa Rekomendasi dari HUT APKASI
Polda Lampung Pasang Imbauan di Krakatau, Nelayan Diminta Jauhi Kawasan Gunung Anak Krakatau
Polinela Perkuat Biosekuriti Kandang Peternak Lampung Timur, Cegah Helminthiasis dan Tingkatkan Produktivitas Ternak
Tertekan Beban Hidup dan Masalah Hukum, Nur Aisyah Dirawat di Klinik, Berharap Perhatian Bupati Lampung Selatan
Suami Terjerat Kasus Hukum, Warga Way Sulan Mengadu ke Bupati Lampung Selatan
Polisi Bubarkan Balap Liar di Tanjung Bintang, Ciptakan Situasi Kamtibmas yang Kondusif
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 13:59 WIB

Alzier Dianis Thabranie Desak Evaluasi Total Usai Kematian Gajah Sumatera Indra di Way Kambas

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:18 WIB

Kadis Pendidikan Bandar Lampung Tinjau Rumah Siswa SMPN 22 yang Ludes Terbakar, Pastikan Pendidikan Korban Tetap Berjalan

Selasa, 7 Juli 2026 - 16:41 WIB

Ombudsman Lampung Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB SMP Negeri Bandar Lampung, Kuota hingga Jalur Afirmasi Jadi Sorotan

Senin, 6 Juli 2026 - 18:46 WIB

DPMPTSP Lampung Selatan Siapkan Regulasi Penataan Tiang dan Kabel Internet, Rio Gismara Bawa Rekomendasi dari HUT APKASI

Senin, 6 Juli 2026 - 18:31 WIB

Polda Lampung Pasang Imbauan di Krakatau, Nelayan Diminta Jauhi Kawasan Gunung Anak Krakatau

Berita Terbaru