Jakarta, Ruangpena.com – Di tengah ketidakpastian global saat ini yang diakibatkan oleh dinamika geopolitik, perubahan iklim, dan revolusi teknologi khususnya Artificial Intelligence (AI), Indonesia terus memperkuat fondasi ekonomi melalui kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan transformasi digital.
“Ke depan, berarti juga akan banyak tantangan dalam rantai pasok serta lapangan kerja. Namun, di bawah arahan Presiden Prabowo, saya pikir adopsi teknologi selaras dengan fokus kemandirian sumber daya Indonesia dalam memajukan kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan sejalan dengan roadmap transformasi digital yang jelas,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, ketika memberikan keynote speech dalam acara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Monthly Economic Diplomatic Breakfast bertema “Beyond Uncertainty: Building Indonesia’s Next Economy”, di Jakarta, Jumat (10/07).
Indonesia memiliki sumber daya mineral yang penting dan demografi muda yang melek teknologi, dan juga secara aktif membangun infrastruktur serta ekosistem yang dibutuhkan untuk pengemasan semikonduktor canggih, pengujian, dan AI data center. Ditambah lagi, Indonesia merupakan pasar AI potensial terbesar ke-4 di Asia setelah Tiongkok, India, dan Jepang, dengan nilai pasar sekitar USD70 miliar dan mewakili 6,4% dari potensi pasar AI regional (sumber: KORIKA).
Pertumbuhan ini perlu didukung oleh data center kuat sebagai tulang punggung infrastruktur AI. Indonesia saat ini memiliki 182 data center, dengan sebagian besar berlokasi di Jakarta (94 data center), dan Batam (16 data center). Untuk memajukan ekonomi digital dan AI data center tentunya membutuhkan kapasitas jaringan listrik yang besar. Indonesia siap memenuhi permintaan ini secara berkelanjutan dengan memperluas arsitektur energi terbarukan, yang ditargetkan akan mengerahkan hingga 100 GW kapasitas energi surya dan campuran energi terbarukan selama beberapa dekade mendatang.
“Dari fiber optic itu kita punya landing point ke regional countries, seperti dengan Singapura itu akan ada peresmian juga kerja sama landing point yang poin ke-3 atau ke-4 di Batam dan Singapura. Di samping itu, kita juga punya landing point di Bitung untuk ke Amerika, jadi itu sangat potensial untuk pengembangan data center,” ungkap Menko Airlangga.
Bersamaan dengan itu, Indonesia baru saja meluncurkan program Biodiesel B50 untuk mengurangi emisi karbon secara drastis di sektor transportasi. Implementasi B50 juga telah berdampak nyata melalui penghematan devisa hingga Rp 177 triliun, dan mengurangi emisi karbon sekira 44 juta ton setiap tahunnya.
Peluang serupa juga terlihat di industri semikonduktor. Pasalnya, permintaan global untuk produk semikonduktor diproyeksikan mencapai USD1 triliun pada 2030, dan Indonesia juga memiliki permintaan pasar domestik yang signifikan untuk produk ini. Oleh karena itu, Indonesia bertujuan untuk mencapai swasembada chip semikonduktor melalui pengembangan desain chip dan kemampuan Perakitan, Pengujian, dan Pengemasan (ATP) di dalam negeri.
Berdasarkan survei Japan External Trade Organization (JETRO) tahun 2025 yang dilakukan kepada perusahaan Indonesia dan ASEAN memperlihatkan hasil bahwa Indonesia mempunyai dunia bisnis yang paling stabil dan menguntungkan jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Di masa depan, Indonesia tetap sepenuhnya terbuka, transparan, dan bersemangat untuk menerima foreign direct investment.
Indonesia dengan cepat menyelesaikan beberapa Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dan secara agresif memajukan proses aksesi OECD untuk menyelaraskan kerangka peraturan di dalam negeri dengan praktik terbaik internasional. Lebih jauh, kita telah menempatkan aksesi kita ke Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP) sebagai prioritas strategis utama.
“Tadi saya sampaikan kepada para Duta Besar bahwa ada beberapa MOU yang dihasilkan dalam kunjungan Bapak Presiden Prabowo sehingga kami berharap mereka juga ikut membantu Indonesia untuk mengawal realisasi daripada investasi. Karena, ada pendapat yang mengatakan bahwa kita perlu bekerja bersama untuk menavigasi ketidakpastian dalam ekonomi global. Mari kita manfaatkan kekuatan teknologi, energi hijau, dan kerja sama ekonomi bersama untuk membangun masa depan yang sejahtera bagi semua bangsa,” tutur Menko Airlangga.
Di sisi lain, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya N. Bakrie menjelaskan bahwa diskusi yang terjadi dalam acara hari ini menjadi sangat penting, karena saat ini perekonomian global tidak hanya lebih terhubung antar satu sama lain, tetapi juga jauh lebih rentan karena berbagai faktor, misalnya dari persoalan rantai pasok, arus investasi, kebijakan industri, teknologi, keamanan energi, keamanan pangan, dan geopolitik.
“Bagi Indonesia, ini berarti diplomasi ekonomi tidak lagi dapat terpisah dari dunia usaha. Hubungan antar Pemerintah membutuhkan eksekusi antar bisnis di baliknya. Perjanjian tingkat tinggi harus diubah menjadi perdagangan, investasi, dan pada akhirnya menjadi lapangan kerja. Kadin Indonesia siap menjadi jembatan antara Pemerintah, dunia usaha, kamar dagang daerah, dan mitra internasional kita,” pungkas Anindya.
Turut hadir dalam agenda hari ini yaitu antara lain 34 Duta Besar Negara Sahabat, para Pejabat Eselon I Kemenko Perekonomian, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya N. Bakrie, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia James Riady, para Ketua Kadin dari berbagai provinsi di Indonesia, dan para anggota Kadin Indonesia lainnya. (***)














Komentar
Silakan login untuk berkomentar.