Pringsewu, Ruangpena.com – Tim dosen dan mahasiswa Program Studi (Prodi) Pengelolaan Agribisnis Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melakukan pendampingan kepada delapan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan tata kelola risiko berbasis ISO 31000:2018.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut menjadi bagian dari upaya Polinela merespons penurunan produksi jamur tiram lokal sekaligus memperkuat daya saing pelaku usaha pertanian di Kabupaten Pringsewu dan Provinsi Lampung.
Tim dosen yang terlibat terdiri atas Kusmaria selaku ketua tim, bersama Bina Unteawati, Muhammad Zaini, Sudiyo, Shinta Tantriadisti, Marbudi, Abu Hasan As-Sadili, dan Varingan Prianando Tambunan. Dalam pelaksanaannya, tim turut didampingi mahasiswa Okto Viter Arfanius Saputra dan Reva Nabilah Putri.
Produksi Jamur Tiram Pringsewu Terus Menurun
Jamur tiram merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai gizi tinggi. Komoditas ini mengandung protein, asam amino esensial, lemak tidak jenuh, serta vitamin B1 dan B2.
Namun, konsumsi jamur di Indonesia masih relatif rendah. Pada 2023, konsumsi jamur tercatat sekitar 2,4 ons per kapita per tahun.
Di sisi lain, rendahnya konsumsi belum diikuti kemampuan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan nasional. Indonesia masih mengandalkan pasokan impor. Pada 2023, impor jamur Indonesia mencapai sekitar 14.770 ton atau setara 21,4 persen dari total konsumsi nasional.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang pasar domestik yang masih terbuka lebar bagi petani dan pelaku usaha jamur lokal.

Kabupaten Pringsewu selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi jamur tiram di Provinsi Lampung. Kontribusi produksi jamur tiram Pringsewu disebut mencapai 37 persen hingga 71 persen dari total produksi daerah.
Keberadaan limbah serbuk gergaji yang melimpah juga menjadi salah satu modal pendukung berkembangnya budidaya jamur tiram di wilayah tersebut.
Namun, sektor budidaya jamur tiram Pringsewu menghadapi tantangan berupa penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir.
Data yang digunakan dalam kegiatan pendampingan menunjukkan produksi jamur tiram Kabupaten Pringsewu turun dari sekitar 243 ton pada 2021 menjadi 67 ton pada 2023, kemudian kembali menurun menjadi 63 ton pada 2024.
Tingkat Kegagalan Produksi Capai 60 Persen
Penurunan produksi tersebut turut dirasakan langsung oleh IKM Budidaya Jamur Tiram Pringsewu.
Usaha yang didirikan pada 2020 itu pada awalnya memiliki kapasitas sekitar 1.000 baglog. Seiring perkembangan usaha, kapasitas produksinya meningkat hingga mencapai sekitar 25.000 baglog dalam satu periode produksi.
Namun, memasuki tahun keenam operasional, kapasitas produksi mengalami penurunan akibat tingkat kegagalan yang tinggi.
Tingkat kegagalan produksi bahkan disebut mencapai 60 persen. Salah satu faktor utama yang menyebabkan kondisi tersebut adalah kontaminasi jamur patogen pada baglog.
Kontaminasi yang terjadi secara berulang menjadi persoalan serius bagi pelaku IKM karena dapat mengurangi jumlah baglog produktif dan meningkatkan biaya produksi.
Minimnya penerapan sterilisasi lingkungan usaha juga menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko kontaminasi. Jika tidak ditangani secara tepat, keberadaan jamur patogen dapat terus berkembang dan mengganggu keberlanjutan usaha budidaya.
Polinela Terapkan GAP untuk Tekan Kontaminasi
Menghadapi persoalan tersebut, Tim Prodi Pengelolaan Agribisnis Polinela memberikan intervensi melalui pendampingan penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
Pendekatan GAP diarahkan untuk meningkatkan kualitas proses budidaya melalui penerapan praktik produksi yang lebih higienis, terstruktur, dan memperhatikan aspek keamanan serta efisiensi usaha.
Dalam pendampingan tersebut, pelaku IKM diberikan pemahaman dan praktik terkait penataan sanitasi, sterilisasi sarana dan lingkungan produksi, penanganan media tanam secara higienis, serta manajemen perawatan baglog.
Penerapan praktik tersebut diharapkan dapat membantu memutus siklus perkembangan jamur patogen yang selama ini menjadi salah satu sumber kegagalan produksi.
Selain aspek teknis budidaya, Polinela juga memperkenalkan tata kelola risiko berbasis ISO 31000:2018.
Pendekatan ini digunakan untuk membantu pengelola IKM mengenali berbagai potensi risiko yang dapat mengganggu kegiatan usaha, kemudian melakukan analisis serta menentukan langkah mitigasi yang sesuai.
Risiko yang dipetakan tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga mencakup tahapan pra-produksi hingga pemasaran dan aspek finansial.
Dengan manajemen risiko yang lebih sistematis, pelaku IKM diharapkan tidak hanya mampu merespons masalah setelah terjadi, tetapi dapat mengantisipasinya sejak awal.
Perkuat Daya Saing Jamur Tiram Lokal
Pendampingan GAP dan manajemen risiko tersebut diharapkan mampu menekan tingkat kegagalan produksi akibat kontaminasi sekaligus membantu memulihkan kapasitas produksi IKM jamur tiram di Pringsewu.
Pemulihan produksi menjadi penting mengingat Pringsewu memiliki potensi sebagai salah satu sentra jamur tiram di Lampung. Dengan pengelolaan budidaya yang lebih baik, potensi sumber daya lokal seperti limbah serbuk gergaji juga dapat terus dimanfaatkan sebagai bagian dari pengembangan usaha.
Dalam jangka panjang, peningkatan kapasitas produksi jamur tiram lokal diharapkan dapat memperkuat pasokan untuk memenuhi kebutuhan pasar Lampung dan berkontribusi terhadap pengurangan ketergantungan terhadap produk impor.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam memberikan solusi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat melalui kombinasi teknologi budidaya, praktik pertanian yang baik, dan manajemen risiko.
Polinela melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan sektor agribisnis yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan.
Dukungan Politeknik Negeri Lampung (Polinela) bersama Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) diharapkan dapat memperluas dampak kegiatan pendampingan, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh mitra IKM, tetapi juga mendukung penguatan ekonomi masyarakat dan ketahanan sektor pertanian di Lampung.
Penulis : Ruangpena.com
Editor : Redaksi


















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.