Bandar Lampung, Ruangpena.com – Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan bukan lagi menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga. Melalui inovasi pertanian perkotaan (urban farming), Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan sempit sekaligus mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos yang bernilai guna.
Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan pelatihan pembuatan pupuk kompos dan instalasi urban farming yang digelar di Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung. Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari puluhan peserta yang terdiri atas ibu-ibu PKK RT 05 Labuhan Ratu dan para ibu rumah tangga Perumahan As Sami.
Pelatihan merupakan bagian dari komitmen Polinela dalam menghadirkan solusi berbasis teknologi tepat guna yang mudah diterapkan masyarakat, hemat biaya, serta ramah lingkungan.
Ketua pelaksana kegiatan yang juga Dosen Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Pangan Polinela, Arum Sekar Buana, mengatakan pelatihan ini dirancang untuk membangun ekosistem ekonomi sirkular di tingkat rumah tangga melalui pemanfaatan limbah organik dan budidaya sayuran di lahan terbatas.
“Konsep utama yang kami bawa adalah Dari Dapur Kembali ke Dapur. Sisa sayur dan kulit buah yang biasanya berakhir di tempat sampah diolah menjadi pupuk kompos yang kemudian dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman,” ujar Arum.
Menurutnya, hasil panen dari tanaman tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan konsumsi keluarga sehingga mampu mengurangi pengeluaran rumah tangga sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
“Sayuran yang tumbuh di halaman rumah nantinya dapat dipanen untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengurangi sampah organik, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi melalui penghematan belanja,” tambahnya.
Edukasi Kompos Tanpa Bio-aktivator
Pada sesi pertama pelatihan, peserta diperkenalkan dengan teknik pembuatan pupuk kompos menggunakan komposter ember tertutup skala rumah tangga. Metode ini memanfaatkan proses dekomposisi alami tanpa tambahan cairan bio-aktivator buatan.
Teknik tersebut dinilai sangat mudah diterapkan karena menggunakan bahan-bahan yang tersedia di rumah dan tidak memerlukan biaya tambahan. Sampah dapur seperti sisa sayuran dan kulit buah dipilah sebelum dimasukkan ke dalam komposter hingga berubah menjadi pupuk organik yang siap digunakan.

Urban Farming di Lahan Satu Meter Persegi
Selain pengolahan sampah organik, peserta juga mendapatkan pelatihan pertanian perkotaan menggunakan sistem Intensified Vertical Module (IVM).
Melalui instalasi pipa PVC yang disusun secara vertikal, masyarakat dapat membudidayakan sekitar 30 hingga 50 tanaman hortikultura seperti pakcoy, tomat, cabai, maupun sayuran lainnya hanya dengan memanfaatkan lahan sekitar satu meter persegi.
Peserta juga mempraktikkan pembuatan media tanam yang mampu menyimpan air lebih lama melalui campuran cocopeat dan sekam bakar, sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meski berada di lingkungan perkotaan.
Praktik Langsung Tingkatkan Kepercayaan Diri Warga
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Kader PKK RT 05 bersama warga Perumahan As Sami tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi langsung mempraktikkan seluruh tahapan mulai dari memilah sampah organik, membuat kompos, meracik media tanam, hingga menyusun instalasi vertikultur.
Pendekatan praktik langsung tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri masyarakat sehingga dapat segera menerapkan teknologi tersebut di rumah masing-masing.
Dengan keterampilan yang diperoleh, warga diharapkan mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri sekaligus memenuhi sebagian kebutuhan sayuran keluarga melalui pekarangan rumah.
Wujud Pengabdian Polinela kepada Masyarakat
Melalui program pengabdian kepada masyarakat ini, Politeknik Negeri Lampung berharap kawasan Labuhan Ratu, khususnya lingkungan RT 05 dan Perumahan As Sami, dapat berkembang menjadi kawasan percontohan permukiman urban yang hijau, minim limbah organik (zero waste), serta memiliki ketahanan pangan keluarga yang lebih kuat.
Program ini juga menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi vokasi dalam menghadirkan inovasi yang aplikatif, mudah diterapkan masyarakat, serta mendukung pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.
Kegiatan ini dipimpin oleh Arum Sekar Buana sebagai ketua pelaksana bersama tim dosen dan akademisi Polinela yang terdiri dari Tri Pujiana, Evi Yunita Sari, Priyadi, Fajarrochman, Juwita Suri Maharani, Dea Musytari Intan Irpawa, dan Destieka Ahyuni.
Dengan sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat, diharapkan budaya mengolah sampah menjadi sumber daya serta pemanfaatan lahan sempit untuk bercocok tanam dapat menjadi gerakan berkelanjutan yang mendukung ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan di Kota Bandar Lampung.














Komentar
Silakan login untuk berkomentar.