Bandar Lampung, Ruangpena.coom – Inflasi tahunan Provinsi Lampung pada Juni 2026 tetap terkendali dan berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year/yoy) Lampung tercatat 2,46 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen.
Sementara secara bulanan (month to month/mtm), Provinsi Lampung mengalami inflasi sebesar 0,55 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,82 persen. Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi Juni dalam tiga tahun terakhir yang sebesar 0,03 persen.
BBM dan Bahan Pangan Jadi Pemicu Inflasi
Kenaikan inflasi pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh kelompok transportasi, khususnya komoditas bensin yang memberikan andil inflasi sebesar 0,21 persen (mtm).
Peningkatan harga bensin terjadi seiring penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026.
Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga turut menyumbang inflasi. Beberapa komoditas utama yang mendorong kenaikan harga antara lain:
- Bawang merah dengan andil 0,07 persen.
- Tomat 0,05 persen.
- Bawang putih 0,04 persen.
- Minyak goreng 0,02 persen.
Kenaikan harga bawang merah dipicu menurunnya produksi pascapanen di sejumlah sentra produksi. Sementara harga tomat meningkat akibat tingginya permintaan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah terbatasnya pasokan karena kondisi cuaca yang tidak menentu.
Adapun kenaikan harga bawang putih dipengaruhi berkurangnya pasokan dari distributor yang terdampak kenaikan biaya distribusi dan fluktuasi nilai tukar rupiah. Sedangkan harga minyak goreng naik karena meningkatnya biaya bahan baku kemasan plastik.
Cabai dan Daging Ayam Menahan Laju Inflasi
Di sisi lain, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan.
Komoditas yang menyumbang deflasi pada Juni 2026 meliputi:
- Cabai merah (-0,03 persen).
- Telur ayam ras (-0,02 persen).
- Cabai rawit (-0,02 persen).
- Daging ayam ras (-0,02 persen).
- Nugget (-0,02 persen).
Turunnya harga cabai dipengaruhi meningkatnya pasokan hasil panen dari daerah sentra produksi serta tambahan pasokan dari luar daerah. Sementara harga daging ayam ras mengalami penurunan seiring normalisasi permintaan setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha.
BI: Inflasi Lampung Diproyeksi Tetap Sesuai Sasaran
Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Lampung memperkirakan inflasi hingga akhir tahun 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen (yoy).
Meski demikian, BI mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, di antaranya:
- Meningkatnya permintaan akibat implementasi kenaikan upah minimum.
- Kenaikan harga emas dunia karena ketidakpastian geopolitik global.
- Potensi naiknya harga plastik yang berdampak pada harga pangan kemasan, termasuk minyak goreng.
- Risiko keterlambatan musim giling yang dapat memicu kenaikan harga gula pasir.
- Potensi penurunan produksi pangan akibat cuaca ekstrem dan peralihan menuju El Nino lemah.
- Risiko kenaikan harga BBM akibat fluktuasi harga minyak dunia.
- Dampak lanjutan penyesuaian tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap biaya distribusi dan tarif transportasi.
BI dan TPID Perkuat Strategi Pengendalian Inflasi
Menghadapi berbagai potensi risiko tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Sejumlah langkah yang dilakukan meliputi operasi pasar beras, penguatan monitoring harga dan pasokan komoditas strategis, perluasan kerja sama antardaerah (KAD) untuk komoditas bawang merah, optimalisasi distribusi pangan melalui BUMD dan BULOG, hingga pemanfaatan media digital dalam menyampaikan informasi perkembangan inflasi kepada masyarakat.
Selain itu, TPID juga memperkuat koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) untuk menjaga produksi pangan, memastikan distribusi pupuk bersubsidi, memperbaiki infrastruktur distribusi, serta meningkatkan sistem informasi neraca pangan guna mendukung pengambilan kebijakan yang lebih cepat dan tepat.
Dengan berbagai langkah tersebut, Bank Indonesia optimistis stabilitas harga di Provinsi Lampung tetap terjaga sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan menjaga daya beli masyarakat sepanjang tahun 2026.














Komentar
Silakan login untuk berkomentar.