Bandar Lampung, Ruangpena.com – Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali mengembangkan inovasi akuakultur berbasis sumber daya lokal. Tim peneliti Jurusan Perikanan dan Kelautan Polinela tengah mengembangkan biostimulan molting alami berbahan kerang hijau (Perna viridis) untuk mempercepat pertumbuhan udang vaname sekaligus meningkatkan efisiensi budidaya.
Inovasi tersebut memanfaatkan senyawa ecdysterol alami, yakni senyawa steroid yang berperan dalam proses molting atau pergantian kulit pada udang.
Molting menjadi salah satu tahapan penting dalam siklus pertumbuhan udang. Namun, dalam sistem budidaya intensif, gangguan proses molting dapat berdampak terhadap pertumbuhan, kebutuhan pakan hingga tingkat kelangsungan hidup udang.
Melalui penelitian ini, Polinela berupaya menghadirkan alternatif berbasis bahan alam yang dapat mendukung proses molting secara lebih efektif dan ramah lingkungan.
Ketua tim penelitian, Dr. Nuning Mahmudah Noor, S.Pi., M.P., mengatakan pemanfaatan kerang hijau sebagai sumber ecdysterol menjadi salah satu peluang pengembangan teknologi akuakultur berbasis potensi hayati lokal.
“Pemanfaatan sumber daya lokal seperti kerang hijau diharapkan dapat menghasilkan teknologi yang mendukung efisiensi budidaya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan sintetis,” ujar Nuning.
Uji Empat Dosis Ekstrak Ecdysterol
Penelitian tersebut dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Polinela dan Keramba Jaring Apung (KJA) Stasiun Lapang Teluk Hurun, Lampung.
Dalam penelitian, tim menguji empat dosis ekstrak ecdysterol yang diaplikasikan pada pakan komersial udang vaname.

Pengujian tersebut dilakukan untuk mengetahui efektivitas ekstrak dalam mendukung performa pertumbuhan dan proses molting udang pada kondisi budidaya intensif.
Sejumlah parameter menjadi fokus penelitian, antara lain laju pertumbuhan spesifik (SGR), efisiensi pakan melalui feed conversion ratio (FCR), tingkat kelangsungan hidup (SR), serta frekuensi molting.
Parameter tersebut digunakan untuk melihat sejauh mana biostimulan berbasis kerang hijau dapat memberikan pengaruh terhadap performa budidaya udang vaname.
Manfaatkan Potensi Kerang Hijau Lampung
Pengembangan teknologi ini juga memanfaatkan keberadaan kerang hijau yang relatif melimpah di perairan Lampung.
Kerang hijau tidak hanya dipandang sebagai komoditas perairan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber senyawa bioaktif yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan akuakultur.
Pemanfaatan bahan lokal tersebut membuka peluang terciptanya inovasi yang memiliki nilai tambah sekaligus mendukung konsep ekonomi biru.
Tim peneliti berharap pengembangan biostimulan alami tersebut dapat menjadi salah satu alternatif dalam meningkatkan efisiensi produksi udang vaname, terutama pada sistem budidaya intensif.
Selain aspek produktivitas, penggunaan bahan alami juga diarahkan untuk mendukung praktik akuakultur yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dorong Akuakultur Berkelanjutan
Pengembangan biostimulan berbasis ecdysterol dari kerang hijau menjadi bagian dari upaya Polinela mendorong inovasi teknologi perikanan yang memanfaatkan sumber daya hayati lokal.
Jika hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang baik, teknologi tersebut berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung peningkatan performa budidaya udang vaname sekaligus memperkuat penerapan prinsip akuakultur berkelanjutan.
Inovasi ini juga memperlihatkan bagaimana sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi bahan teknologi bernilai tambah untuk menjawab tantangan industri perikanan dan mendukung penguatan ekonomi biru nasional.
Tim Peneliti
Penelitian ini diketuai Dr. Nuning Mahmudah Noor, S.Pi., M.P., dengan anggota tim:
Linuwih Aluh Prastiti, S.Pi., M.Si., dan Sari Rahayu, S.E., M.P.
Penulis : Ruangpena.com
Editor : Redaksi

















