Bandar Lampung, Ruangpena.com — Tim peneliti dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah sekam padi menjadi silika amorf yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku biostimulan untuk pertanian.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim peneliti yang diketuai Priyadi, bersama Fajar Rochman, Arum Sekar Buana, Evi Yunita Sari, dan Dea Musytari Intan Irpawa.
Penelitian ini berangkat dari besarnya potensi sekam padi sebagai sumber silika biogenik. Selama ini, sekam padi diketahui memiliki kandungan silika yang cukup tinggi sehingga berpeluang diolah menjadi material bernilai tambah untuk mendukung sektor pertanian.
Namun, pengembangan silika dari sekam padi untuk kebutuhan komersial masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama biaya produksi dan proses ekstraksi konvensional yang relatif panjang serta membutuhkan energi cukup besar.
Melalui penelitian tersebut, tim Polinela berupaya menyederhanakan proses sintesis silika amorf dari sekam padi dengan mengoptimalkan reaksi alkalis dan perlakuan suhu yang lebih terkontrol.
Penyederhanaan proses dilakukan tanpa mengesampingkan kualitas dan kemurnian silika yang dihasilkan. Bahkan, struktur amorf silika tetap dipertahankan karena karakteristik tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam pemanfaatannya sebagai sumber nutrisi silika bagi tanaman.
Pangkas Tahapan Produksi
Pada metode konvensional, ekstraksi silika biogenik umumnya melibatkan sejumlah tahapan pemurnian kimia dan perlakuan panas dengan suhu tinggi. Rangkaian proses tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan bahan kimia, energi, waktu, serta biaya produksi.
Tim peneliti Polinela kemudian mengembangkan pendekatan yang lebih sederhana melalui optimalisasi tahapan reaksi dan kondisi pemrosesan.

Dengan metode tersebut, proses sintesis dapat dilakukan dengan instrumen yang lebih efisien dan waktu pemrosesan yang lebih singkat. Pemangkasan tahapan produksi juga diharapkan dapat membuka peluang penerapan teknologi pada skala yang lebih besar.
Selain efisiensi proses, inovasi ini diarahkan untuk menghasilkan produk biostimulan berbasis silika dalam dua bentuk, yakni Silica Powder dan Silica Emulsion.
Silica Powder merupakan produk berbentuk serbuk yang memiliki karakteristik lebih mudah disimpan dan didistribusikan. Sementara Silica Emulsion merupakan formulasi cair yang dirancang agar lebih praktis dalam aplikasi, termasuk melalui metode penyemprotan pada tanaman.
Kedua varian tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif produk biostimulan berbasis silika yang lebih mudah diaplikasikan di sektor pertanian.
Dorong Hilirisasi Riset
Ketua tim peneliti, Priyadi, mengatakan pengembangan teknologi tersebut tidak semata-mata berfokus pada proses ekstraksi silika dari sekam padi.
Menurutnya, aspek penting dari penelitian tersebut adalah bagaimana menghasilkan metode yang lebih praktis, efisien, dan ekonomis sehingga teknologi dapat dikembangkan menuju tahap hilirisasi.
“Kunci utama dari riset ini sebenarnya bukan sekadar tentang bagaimana mengekstrak silika karena literatur dan metodenya di luar sana sudah sangat banyak, melainkan bagaimana membuat keseluruhan prosesnya menjadi jauh lebih praktis, efisien, dan ekonomis,” ujar Priyadi.
Ia menambahkan, tujuan akhir dari pengembangan tersebut adalah menghasilkan biostimulan berbasis silika yang memiliki nilai manfaat dan dapat diaplikasikan secara lebih luas oleh petani.
“Tujuan akhir kami adalah agar produk biostimulan ini benar-benar terjangkau dan layak diaplikasikan secara luas di tingkat petani,” tegasnya.
Manfaatkan Limbah Pertanian
Pemanfaatan sekam padi sebagai bahan baku silika juga memiliki nilai strategis dari sisi pengelolaan limbah pertanian. Sekam yang selama ini menjadi produk samping penggilingan padi dapat diolah menjadi material bernilai ekonomi lebih tinggi.
Pengembangan tersebut sekaligus membuka peluang penerapan konsep ekonomi sirkular di sektor pertanian, yakni mengubah limbah menjadi produk yang dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas pertanian.
Dengan proses produksi yang lebih sederhana dan peluang pengembangan dua jenis formulasi, inovasi silika berbasis sekam padi dari tim Polinela ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut menuju skala industri.
Ke depan, pengembangan teknologi tersebut diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dilanjutkan melalui pengujian, penyempurnaan formulasi, serta proses hilirisasi agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh pelaku usaha dan petani.
Inovasi ini menjadi salah satu contoh bagaimana riset perguruan tinggi dapat mendorong pemanfaatan sumber daya lokal sekaligus menciptakan produk pertanian bernilai tambah dari limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Penulis : Ruangpena.com
Editor : Redaksi
















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.