Bandar Lampung, Ruangpena.com – Tim dosen Program Studi Hortikultura Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengembangkan inovasi teknologi pelapis alami (edible coating) berbasis pati singkong dan limbah kulit jeruk untuk memperpanjang masa simpan sekaligus mempertahankan mutu tomat rampai (Solanum pimpinellifolium), salah satu komoditas hortikultura khas Lampung.
Penelitian tersebut diketuai oleh Annisa Fitri, S.P., M.P., dengan anggota Ir. Mustika Adzania L., S.P., M.P., Sigit Ardiansyah, S.P., M.Tr.P., Hevia Purnama Sari, S.P., M.Si., dan Emi Yunida, S.P., M.P. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya pengembangan teknologi pascapanen yang ramah lingkungan serta mendukung pertanian berkelanjutan.
Ketua Peneliti, Annisa Fitri, menjelaskan bahwa tomat rampai merupakan komoditas lokal yang telah lama dimanfaatkan masyarakat Lampung sebagai bahan utama sambal maupun berbagai olahan pangan. Namun, sebagai buah klimakterik, tomat rampai memiliki masa simpan yang relatif singkat sehingga rentan mengalami penurunan kualitas setelah panen.
“Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petani maupun pelaku usaha hortikultura karena berpotensi menimbulkan kehilangan hasil. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi pascapanen yang efektif, mudah diterapkan, dan ramah lingkungan,” ujar Annisa.
Dalam penelitian ini, pati singkong dipilih sebagai bahan dasar edible coating karena mudah diperoleh, memiliki sifat membentuk lapisan pelindung alami, serta berasal dari sumber daya lokal. Sementara itu, limbah kulit jeruk dimanfaatkan karena masih mengandung senyawa antioksidan dan antimikroba alami yang mampu membantu menghambat proses kerusakan buah selama penyimpanan.

Melalui pemanfaatan limbah pertanian tersebut, penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah terhadap produk samping yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular di sektor pertanian.
Berbagai formulasi edible coating akan diaplikasikan pada tomat rampai yang disimpan pada suhu ruang. Selanjutnya, tim peneliti akan melakukan pengamatan terhadap sejumlah parameter, meliputi lama masa simpan, susut bobot, tingkat kekerasan buah, total padatan terlarut, persentase buah busuk, kandungan vitamin C, serta total fenol.
Hasil evaluasi tersebut akan digunakan untuk menentukan formulasi edible coating yang paling efektif dalam mempertahankan kualitas tomat rampai selama penyimpanan.
“Melalui penelitian ini kami berharap dapat menghasilkan teknologi pascapanen yang sederhana, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan sehingga dapat membantu mengurangi kehilangan hasil serta meningkatkan nilai ekonomi tomat rampai sebagai komoditas khas Lampung,” kata Annisa.
Direktur Politeknik Negeri Lampung, Dr. Dwi Puji Hartono, S.Pi., M.Si., memberikan apresiasi atas penelitian yang dilakukan para dosen Program Studi Hortikultura tersebut. Menurutnya, inovasi yang lahir dari perguruan tinggi harus mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai tantangan di sektor pertanian.
Ia menilai riset berbasis potensi lokal seperti pemanfaatan pati singkong dan limbah kulit jeruk merupakan langkah strategis dalam menghasilkan teknologi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga aplikatif bagi masyarakat.
“Semoga inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan dimanfaatkan secara luas oleh petani maupun pelaku agribisnis sehingga mampu meningkatkan daya saing komoditas hortikultura daerah,” ujar Dwi Puji Hartono.
Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu kontribusi Polinela dalam mendukung pengembangan teknologi pascapanen yang berkelanjutan, mengurangi kehilangan hasil panen, serta meningkatkan kesejahteraan petani melalui inovasi berbasis sumber daya lokal.
Penulis : Ruangpena.com
Editor : Redaksi













