UGC Jadi Tren Baru Marketing Digital, Brand Perlu Pahami Strateginya

Kamis, 6 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Ruangpena.com – Perubahan perilaku pengguna media sosial membuat strategi pemasaran digital ikut berkembang. Jika sebelumnya brand banyak mengandalkan iklan dengan produksi profesional dan konsep yang sangat terarah, kini konten sederhana yang dibuat langsung oleh pengguna justru semakin mendapat perhatian.

Konten tersebut dikenal sebagai User-Generated Content (UGC), yaitu konten yang dibuat oleh pelanggan atau pengguna, bukan oleh tim pemasaran perusahaan. Bentuknya dapat berupa ulasan produk, video unboxing, pengalaman penggunaan, hingga testimoni yang direkam secara sederhana menggunakan perangkat pribadi.

Tren UGC berkembang karena audiens cenderung lebih percaya terhadap konten yang terasa alami dan tidak terlalu dikemas seperti iklan. Di tengah tingginya persaingan konten digital, pendekatan yang lebih autentik dinilai mampu meningkatkan interaksi pengguna.

Berdasarkan riset Emplifi, sebanyak 47 persen tenaga pemasaran kini lebih memprioritaskan strategi berbasis konten pengguna dibandingkan video iklan yang sepenuhnya diproduksi oleh brand. Selain itu, 73 persen marketer juga lebih berfokus pada format video pendek seperti Reels dan TikTok dibandingkan video berdurasi panjang.

Mengapa UGC Banyak Mendapat Perhatian Algoritma

Salah satu alasan UGC semakin populer adalah tingkat keterlibatan pengguna yang relatif tinggi. Konten yang terlihat spontan dan relevan dengan pengalaman sehari-hari membuat audiens lebih tertarik untuk menonton hingga selesai.

Tingkat penyelesaian tontonan atau completion rate menjadi salah satu indikator penting dalam distribusi konten di berbagai platform. UGC yang terasa natural sering kali mampu mempertahankan perhatian pengguna lebih baik dibandingkan konten promosi yang terlalu formal.

Baca Juga :  Trend Flower Gifting Meningkat, Athaya Secara Resmi Membuka Floral Studio Pertamanya di Area Cibubur

Selain itu, karakter autentik menjadi nilai utama UGC. Respons audiens terhadap konten yang terlihat jujur dan personal menghasilkan sinyal interaksi yang sulit dibuat melalui konten promosi konvensional.

Konten yang dibuat secara native di masing-masing platform juga memiliki peluang distribusi lebih baik. Misalnya, video yang dibuat langsung untuk TikTok atau Instagram Reels cenderung lebih sesuai dengan ekosistem platform dibandingkan konten yang hanya dipindahkan dari platform lain.

Keaslian Menjadi Tantangan Baru bagi Brand

Meski UGC menawarkan peluang besar, brand tetap perlu memahami bahwa nilai utama strategi ini berada pada aspek keaslian. Upaya membuat konten yang terlihat seperti pengalaman pengguna, tetapi sebenarnya terlalu diarahkan atau direkayasa, dapat mengurangi kepercayaan audiens.

Platform digital juga semakin mampu mengenali pola interaksi yang tidak alami. Karena itu, perusahaan perlu membedakan antara membangun jangkauan awal dengan memanipulasi persepsi pengguna.

Fondasi audiens, distribusi konten, dan kualitas interaksi tetap menjadi bagian penting dalam strategi pemasaran digital. Namun, faktor tersebut tidak dapat menggantikan nilai utama UGC, yaitu pengalaman nyata dari pengguna.

UGC Tetap Membutuhkan Audiens Awal

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa UGC akan otomatis mendapatkan perhatian hanya karena dibuat secara autentik. Pada praktiknya, sebuah konten tetap membutuhkan audiens awal agar dapat memperoleh respons dan jangkauan yang optimal.

Baca Juga :  BRI KK RS Carolus Hadir Berikan Kemudahan Layanan Perbankan bagi Civitas Rumah Sakit dan Masyarakat

Azalea, Content Marketing Specialist ProviderSMM.id, mengatakan bahwa keaslian konten dan fondasi audiens merupakan dua aspek berbeda yang perlu berjalan secara bersamaan.

“Banyak brand berpikir UGC akan otomatis berjalan begitu diunggah, padahal kenyataannya konten itu tetap butuh audiens yang siap merespons. Fondasi audiens dan keaslian konten itu dua hal berbeda. Satu soal jangkauan, satu soal substansi,” ujar Azalea.

Menurutnya, dukungan terhadap pertumbuhan digital dapat menjadi bagian dari strategi awal, selama tetap digunakan untuk memperkuat distribusi dan bukan menggantikan interaksi yang sebenarnya.

Strategi Memanfaatkan UGC Secara Efektif

Pelaku bisnis dapat memanfaatkan tren UGC dengan mendorong pelanggan membagikan pengalaman secara alami, tanpa membuat konten terasa terlalu diarahkan.

Selain itu, brand perlu membangun komunitas dan basis audiens agar konten yang dibuat pengguna memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan respons. Konsistensi dalam membuat dan mendistribusikan konten juga tetap menjadi faktor penting dalam strategi jangka panjang.

Kombinasi antara dukungan distribusi, komunitas yang aktif, serta konten autentik dapat membantu brand memanfaatkan potensi UGC secara lebih optimal.

Tren UGC menunjukkan bahwa pemasaran digital semakin bergerak menuju pendekatan yang mengutamakan kepercayaan dan pengalaman nyata pengguna. Tantangan bagi brand bukan hanya mengikuti tren, tetapi memahami bagaimana menjaga keseimbangan antara memperluas jangkauan dan mempertahankan keaslian konten.

Penulis : Redaksi Ruangpena.com

Editor : Vritimes

Berita Terkait

Operasional Minimarket Semakin Kompleks, Sistem POS Jadi Andalan Kelola Transaksi dan Stok
Harga Emas (XAUUSD) Terancam Lanjut Turun? Dupoin Futures Ungkap Level Kunci yang Wajib Dipantau
Dari Kendaraan Impian hingga Pembiayaan, BRI Finance Hadirkan Penawaran Menarik di Sumatera Barat
SUCOFINDO Perkuat Ekosistem Perkeretaapian Nasional di RailwayTech Indonesia 2026
HeroPlay Luncurkan Fruit Ninja City Battle Merdeka Edition Ajak Gamer Indonesia Bermain
Gugik.id Hadirkan Solusi Server Dell Enterprise Berperforma Tinggi untuk Akselerasi Bisnis
KAI Logistik Berhasil Resertifikasi Sistem Manajemen Integrasi ISO, Perkuat Tata Kelola Berkelanjutan
Hari Terakhir BRI KKB Expo 2026, BRI Finance Hadirkan Promo Pembiayaan Kendaraan di Lampung
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 16:54

Operasional Minimarket Semakin Kompleks, Sistem POS Jadi Andalan Kelola Transaksi dan Stok

Kamis, 6 Agustus 2026 - 08:47

UGC Jadi Tren Baru Marketing Digital, Brand Perlu Pahami Strateginya

Rabu, 5 Agustus 2026 - 16:29

Harga Emas (XAUUSD) Terancam Lanjut Turun? Dupoin Futures Ungkap Level Kunci yang Wajib Dipantau

Rabu, 5 Agustus 2026 - 10:23

SUCOFINDO Perkuat Ekosistem Perkeretaapian Nasional di RailwayTech Indonesia 2026

Rabu, 5 Agustus 2026 - 10:16

HeroPlay Luncurkan Fruit Ninja City Battle Merdeka Edition Ajak Gamer Indonesia Bermain

Berita Terbaru