Cagar Budaya di Ujung Risiko, Antara Warisan dan Ancaman Bencana

- Penulis

Rabu, 15 April 2026 - 12:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Jakarta, Ruangpena.com – Ancaman bencana tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga menggerus jejak sejarah bangsa. Hal ini mengemuka dalam seminar “Cagar Budaya yang Tangguh Bencana Berkelanjutan” di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (14/4), yang menghadirkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai narasumber.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka acara menegaskan bahwa bencana berdampak luas, tidak hanya pada manusia, tetapi juga pada sistem kehidupan, termasuk cagar budaya. “Cagar budaya merupakan bagian dari sistem kehidupan yang juga rentan terdampak bencana,” ujarnya.

Indonesia menghadapi ironi. Kaya akan warisan budaya, namun berada di kawasan rawan bencana. BNPB mencatat, hingga 13 April 2026 telah terjadi 748 kejadian bencana, didominasi banjir dan cuaca ekstrem. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menegaskan, cagar budaya berisiko rusak atau hilang akibat bencana atau perang.

Catatan sejarah menunjukkan dampak nyata. Tsunami Aceh 2004 menghancurkan lebih dari 50 situs budaya. Gempa Yogyakarta 2006 merusak struktur Candi Borobudur dan Prambanan. Banjir dan longsor pada November 2025 merusak puluhan situs di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di Kota Lama Semarang, banjir yang berulang setiap musim hujan terus mengancam bangunan kolonial yang telah berusia lebih dari satu abad.

Menurut Abdul Muhari, cagar budaya tidak hanya perlu dilindungi secara fisik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran kebencanaan. Manuskrip kuno dan artefak menyimpan pengetahuan historis yang penting untuk memahami pola bencana di masa lalu.

Pengalaman Jepang menjadi rujukan. Pasca tsunami Tohoku 2011 yang merusak ratusan properti budaya, pemulihan dilakukan secara sistematis dalam waktu relatif cepat. Kunci keberhasilan terletak pada kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi, serta komitmen penganggarannya. Inisiatif seperti Shiryō Net dan konsep Cultural Properties Doctor memungkinkan penyelamatan artefak sejak fase darurat. Jepang juga menerapkan prinsip build back better, membangun kembali dengan standar ketahanan yang lebih tinggi.

Baca Juga :  Tinjau Huntap di Aceh Utara, Wamenko Polkam : Negara Hadir Bantu Rakyat Aceh terdampak Bencana

BNPB menilai Indonesia perlu melakukan transformasi dalam pengelolaan cagar budaya. Pendekatan tidak lagi reaktif, melainkan berbasis mitigasi risiko. Langkah yang diusulkan meliputi inventarisasi dan pemetaan risiko berbasis data spasial, penguatan struktur bangunan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan sistem pemantauan berkelanjutan.

Pemanfaatan teknologi seperti InaRISK dinilai menjadi kunci integrasi data bahaya, kerentanan, dan kapasitas dalam satu platform. Dengan pendekatan ini, cagar budaya tidak hanya dilindungi, tetapi dikelola secara adaptif terhadap ancaman bencana.

Pada akhirnya, cagar budaya bukan sekedar peninggalan masa lalu. Ia adalah identitas bangsa dan memori kolektif yang harus dijaga. Melindunginya dari ancaman bencana bukan hanya soal kebijakan, melainkan tanggung jawab bersama.

Follow WhatsApp Channel ruangpena.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menag Ajak ASN Kemenag Sambut WFH sebagai Transformasi Budaya Kerja Baru
Menko Polkam Desak Investigasi PBB atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon
Festival Balon Udara Digelar di Pekalongan dan Wonosobo, Kemenhub Tekankan Keselamatan Penerbangan
Jelang Lebaran Ketupat, Kemenhub Imbau Pemudik Atur Waktu Perjalanan dan Waspadai Balon Udara Liar
Jelang Nyepi 2026, Kemenhub Sesuaikan Operasional Transportasi di Bali
Kapolri Tekankan Soliditas TNI-Polri Hadapi Tantangan Global dan Jaga Stabilitas Nasional
DJKA Uji Coba Skybridge Stasiun Bandung untuk Penumpang KA Feeder Whoosh Jelang Angkutan Lebaran 2026
Menag Lantik Wan Jamaluddin Kembali Jadi Rektor UIN Raden Intan Lampung Periode 2026–2030
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 12:59 WIB

Cagar Budaya di Ujung Risiko, Antara Warisan dan Ancaman Bencana

Jumat, 10 April 2026 - 22:59 WIB

Menag Ajak ASN Kemenag Sambut WFH sebagai Transformasi Budaya Kerja Baru

Rabu, 1 April 2026 - 21:47 WIB

Menko Polkam Desak Investigasi PBB atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 29 Maret 2026 - 07:53 WIB

Festival Balon Udara Digelar di Pekalongan dan Wonosobo, Kemenhub Tekankan Keselamatan Penerbangan

Sabtu, 28 Maret 2026 - 13:09 WIB

Jelang Lebaran Ketupat, Kemenhub Imbau Pemudik Atur Waktu Perjalanan dan Waspadai Balon Udara Liar

Berita Terbaru

Kota Bandar Lampung

Tak Tunggu BBWS, Eva Dwiana Ambil Alih Penanganan Drainase

Kamis, 16 Apr 2026 - 16:36 WIB

Kota Bandar Lampung

Di Tengah Hujan Deras, Eva Dwiana Sambangi Keluarga Korban Banjir Bandang

Rabu, 15 Apr 2026 - 14:47 WIB