Cagar Budaya di Ujung Risiko, Antara Warisan dan Ancaman Bencana

Rabu, 15 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy


Jakarta, Ruangpena.com – Ancaman bencana tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga menggerus jejak sejarah bangsa. Hal ini mengemuka dalam seminar “Cagar Budaya yang Tangguh Bencana Berkelanjutan” di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (14/4), yang menghadirkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai narasumber.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka acara menegaskan bahwa bencana berdampak luas, tidak hanya pada manusia, tetapi juga pada sistem kehidupan, termasuk cagar budaya. “Cagar budaya merupakan bagian dari sistem kehidupan yang juga rentan terdampak bencana,” ujarnya.

Indonesia menghadapi ironi. Kaya akan warisan budaya, namun berada di kawasan rawan bencana. BNPB mencatat, hingga 13 April 2026 telah terjadi 748 kejadian bencana, didominasi banjir dan cuaca ekstrem. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menegaskan, cagar budaya berisiko rusak atau hilang akibat bencana atau perang.

Baca Juga :  Tinjau Huntap di Aceh Utara, Wamenko Polkam : Negara Hadir Bantu Rakyat Aceh terdampak Bencana

Catatan sejarah menunjukkan dampak nyata. Tsunami Aceh 2004 menghancurkan lebih dari 50 situs budaya. Gempa Yogyakarta 2006 merusak struktur Candi Borobudur dan Prambanan. Banjir dan longsor pada November 2025 merusak puluhan situs di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di Kota Lama Semarang, banjir yang berulang setiap musim hujan terus mengancam bangunan kolonial yang telah berusia lebih dari satu abad.

Menurut Abdul Muhari, cagar budaya tidak hanya perlu dilindungi secara fisik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran kebencanaan. Manuskrip kuno dan artefak menyimpan pengetahuan historis yang penting untuk memahami pola bencana di masa lalu.

Pengalaman Jepang menjadi rujukan. Pasca tsunami Tohoku 2011 yang merusak ratusan properti budaya, pemulihan dilakukan secara sistematis dalam waktu relatif cepat. Kunci keberhasilan terletak pada kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi, serta komitmen penganggarannya. Inisiatif seperti Shiryō Net dan konsep Cultural Properties Doctor memungkinkan penyelamatan artefak sejak fase darurat. Jepang juga menerapkan prinsip build back better, membangun kembali dengan standar ketahanan yang lebih tinggi.

Baca Juga :  Gunung Dukono Erupsi, Lima Pendaki Luka-Luka dan Dua Wisatawan Diduga Meninggal

BNPB menilai Indonesia perlu melakukan transformasi dalam pengelolaan cagar budaya. Pendekatan tidak lagi reaktif, melainkan berbasis mitigasi risiko. Langkah yang diusulkan meliputi inventarisasi dan pemetaan risiko berbasis data spasial, penguatan struktur bangunan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan sistem pemantauan berkelanjutan.

Pemanfaatan teknologi seperti InaRISK dinilai menjadi kunci integrasi data bahaya, kerentanan, dan kapasitas dalam satu platform. Dengan pendekatan ini, cagar budaya tidak hanya dilindungi, tetapi dikelola secara adaptif terhadap ancaman bencana.

Pada akhirnya, cagar budaya bukan sekedar peninggalan masa lalu. Ia adalah identitas bangsa dan memori kolektif yang harus dijaga. Melindunginya dari ancaman bencana bukan hanya soal kebijakan, melainkan tanggung jawab bersama.

Berita Terkait

BRI KK Blok A Tanah Abang Permudah Akses Perbankan di Pusat Grosir
BSKDN Kemendagri Gelar Review Perdana Bersama Pemkab Supiori Utamakan Suara Warga Papua
FisTx Kukuhkan Teknologi Akuakultur Terlengkap Indonesia, Ekspansi ke Pasar Timur Tengah
AI Connect Innovation Lab Dorong Peserta Bangun Produk AI Inovatif Sesuai Kebutuhan Pasar
Perkuat Tata Air, WSBP Suplai Spun Pile dan Beton Readymix Kurangi Banjir
New Home-Pass, New Tree, Inisiatif Linknet untuk Jaga Benteng Pesisir dan Masa Depan Masyarakat
Apa Itu SMM Panel? Ini Ciri SMM Panel Indonesia Terbaik yang Perlu Diketahui
LRT Jabodebek Ubah Stasiun Menjadi Ruang Publik, Music on Track Hadirkan Pengalaman Baru bagi Pengguna
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:54

BRI KK Blok A Tanah Abang Permudah Akses Perbankan di Pusat Grosir

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:16

FisTx Kukuhkan Teknologi Akuakultur Terlengkap Indonesia, Ekspansi ke Pasar Timur Tengah

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:54

AI Connect Innovation Lab Dorong Peserta Bangun Produk AI Inovatif Sesuai Kebutuhan Pasar

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:34

Perkuat Tata Air, WSBP Suplai Spun Pile dan Beton Readymix Kurangi Banjir

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:33

New Home-Pass, New Tree, Inisiatif Linknet untuk Jaga Benteng Pesisir dan Masa Depan Masyarakat

Berita Terbaru